var id = "842a7fe6af934b848268c775b4bddb0db3d1c0a4"; ?php body_class(); ?>>
(123)456 7890 [email protected]

Sempat Dikira Kancil Kronologi Pemburu Tembak Mati Teman Sendiri

Sempat Dikira Kancil Kronologi Pemburu Tembak Mati Teman Sendiri

Seorang pemburu bernama Sabirin (42) syok dan pingsan saat melihat temannya sendiri tertembak dari senjata yang digunakannya. Sabirin mengira ia telah menembak seekor kancil. Namun, ia salah sasaran.

Peluru dari senjata yang ditembakkannya malah mengenai temannya sendiri hingga tewas di lokasi kejadian. Sabirin warga Dusun V Desa Tanjung Agung Kecamatan Tanjung Agung Kabupaten Muaraenim, Provinsi Sumatera Selatan itu pun menyerahkan diri ke polisi. Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Jumat,(28/8/2020) dimana peristiwa salah tembak tersebut bermula sekira pukul 21.00 Wib.

Sabirin bersama korban yakni Riswan dan dua rekannya yang lainnya yakni Ahmad Tohari dan Ardiansyah pergi berburu di daerah Talang Tarikan Desa Tanjung Agung, Muaraenim. Sesampai di lokasi mereka berpencar menjadi dua kelompok yaitu pelaku bersama korban dan Ahmad Tohari bersama Ardiansah. Setelah beberapa lama menyusuri belukar dan perkebunan, sekira pukul 01.00 Wib dini hari, Sabirin dan Riswan melihat ada mata kancil.

Kemudian korban menyuruh pelaku untuk mengejar mata kancil tersebut dan korban ikut mengejar lewat di depan pelaku. Tidak berapa lama, Sabirin melihat sebuah cahaya yang diduga mata kancil. Ia pun menembak kearah sumber cahaya dengan jarak sekitar 20 meter.

Namun naasnya bukannya suara kancil yang tertembak yang ia dengar, ia malah terkejut saat mendengar itu adalah suara temannya sendiri yakni Riswanto. Mendengar teriakan tersebut,pelakupun langsung bergegas berlari menuju asal suara tersebut. Sabirin pun syok saat melihat ternyata itu benar Riswan yang mengalami luka tembak di bagian leher sebelah kiri.

Ia pun syok dan memeluk tubuh Riswan sekuat kuatnya tak menyangka bahwa yang ia tembak tersebut adalah teman berburunya sendiri. Karena tak kuasa menghadapi kenyataan, dan tiba tiba pelaku pun pingsan. Pelaku dan korban kemudian ditemukan oleh tim pemburu yang lain yakni Ardiansyah dan Ahmad Tobari dan beberapa warga.

Kemudian dalam keadaan tak sadarkan diri, Sabirin dibawa oleh Ardiansyah pulang ke rumahnya sekalian mencari bantuan untuk mengevakuasi jasad Riswanto. Sementara Ahmad Tohari bersama warga lainnya tinggal untuk menjaga jasad riswanto hingga tim evakuasi tiba. Setelah mendapat laporan dari warga adanya peristiwa tersebut, Kapolsek Tanjung Agung AKP Faisal Pangihutan Manalu, S.H., S.Ik, bersama dengan personilnya melakukan tindakan kepolisian dengan mendatangi TKP dan mengamankan barang bukti serta mencatat saksi saksi serta membawa korban ke Puskesmas bersama dengan warga setempat.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, Sabirin diantar oleh pihak keluarganya untuk menyerahkan diri ke Polsek Tanjung Agung. Kapolres Muara Enim AKBP Donni Eka Syaputra S.H., S.I.K., M.M melalui Kapolsek Tanjung Agung AKP Faisal Pangihutan Manalu, S.H., S.Ik, menjelaskan Korban meninggal dunia diduga akibat luka tembak di bagian leher sebelah kiri. "Senjata yang digunakan pelaku adalah senjata rakitan laras panjang milik Almarhum Ayahnya,"katanya.

Dijelaskan Kaposlek, Pelaku sebelumnya memang sering pergi berburu menggunakan senapan angin. Dari pihak keluarga Korban tidak ingin korban dilakukan Visum dan Autopsi dan pelaku sudah kita amankan karena menyerahkan diri di Polsek Tanjung Agung guna mempertanggung jawabkan perbuatannya yang telah dilakukan,"pungkasnya. Satuan Reskrim Polres Tangerang Selatan (Tangsel), berhasil meringkus tiga pelaku penembakan misterius yang terjadi pada akhir bulan Juni sampai awal Agustus 2020 ini.

Mereka berinisial CA (19), CA (19) dan EV (27). Kasat Reskrim Polres Tangsel, AKP Muharram Wibisono Adipradono, mengatakan, ketiga pelaku ditangkap di bilangan Kebon Nanas, Kota Tangerang, Senin (10/8/2020). "Jadi kita sudah mengamankan pelaku, tapi kita masih melakukan pengembangan. Nanti keterangan lebih lanjut bisa kita bagikan kepada rekan rekan," ujar Muharram di Mapolres Tangsel, Jalan Raya Promoter, Serpong, Tangsel.

Aparat masih terus mengembangkan kasus penembakan misterius itu. Pihaknya juga akan menggali keterangan dari ketiga pelaku untuk mengetahui motif dari aksi koboi tersebut. "Tiga orang. kita masih lakukan pengembangan nanti kita akan informasikan lebih lanjut. Mereka ada yang di salah satu apartemen, ada juga yang di rumah," ujarnya.

Selain ketiga pelaku, polisi juga menyita senjata yang digunakan untuk penembakan misterius tersebut. Namun Muharram masih akan meneliti jenis senjata dan peluru yang digunakan itu. "Barang bukti senjata yang digunakan kita amankan. Tentu itu menjadi bukti untuk menguatkan bahwa mereka pelakunya," ujarnya. Ketiga pelaku terlihat sedikit berlari mengikuti langkah penyidik yang bergerak cepat.

Obe ditembak di bilangan Jalan Raya Serpong, Serpong Utara, pada Minggu (19/7/2020). Sedangkan, Sunjaya, ditembak di bilangan Bundaran Alam Sutera, Serpong Utara, Minggu (28/6/2020). Dua dari tiga tersangka kasus penembakan misterius di wilayah Tangerang Raya, merupakan saudara kembar, yakni Clerence Antonius (19) dan Christoper Antonius (19).

Sedangkan satu tersangka lainnya, Evans Ferdinand (27), merupakan teman dari saudara kembar itu. Dalam menjalankan aksinya, mereka berbagi peran. Christoper yang bertugas sebagai sopir mobil. Sedangkan saudara kembarnya, Clerence bertugas menentukan target. Mereka bergerak menggunakan mobil Daihatsu Xenia menuju wilayah sasaran.

Setelah sampai dan target didapat, Evans bertugas sebagai eksekutor menembak target. Senjata airsoft gun yang digunakan pada aksi koboi itu juga merupakan milik Evans. "Ketiga tersangka adalah EF diduga sebagai pemilik daripada senjata airsoft gun, perannya pada saat itu sebagai eksekutor."

"Yang kedua saudara CA, dan ketiga CA. Keduanya ini merupakan saudara, diduga kembar. Mereka berdua Sebagai pengemudi pada saat melakukan kegiatan itu. Dan yang satu untuk menentukan target atau sasaran," papar Iman di Mapolres Tangsel, Jalan Raya Promoter, Serpong, Tangsel, Selasa (11/8/2020). Polisi juga mengamankan tiga pucuk airsoft gun, satu kotak peluru gotri, 37 butir peluru mimis dan satu unit mobil yang digunakan untuk melancarkan aksi penembakan itu. Tidak ada korban jiwa dari penembakan itu, namun rata rata korban harus menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang.

Atas perbuatan itu, ketiga tersangka dijerat pasal berlapis, tentang penganiayaan dan penguasan senjata api, pasal 170 ayat 2e KUHP dan atau pasal 351 ayat 2 KUHP dan atau 353 ayat 2 KUHP dqn atau Undang undang darurat nomor 12 tahun 1951.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *