var id = "842a7fe6af934b848268c775b4bddb0db3d1c0a4"; ?php body_class(); ?>>
(123)456 7890 [email protected]

Sama-sama Beri Uang Rp 30.000 menuju Korban Pelaku PNS & Buruh 2 Kasus Sodomi di Jawa Barat

Sama-sama Beri Uang Rp 30.000 menuju Korban Pelaku PNS & Buruh 2 Kasus Sodomi di Jawa Barat

Dua kasus sodomi di Jawa Barat terungkap hampir bersamaan baru baru ini. Kasus pertama adalah PNS di Karawang dan berikutnya adalah buruh di Subang. Keduanya sama sama memberi iming iming uang Rp 30.000 hingga Rp 50.000 kepada para korban.

Seorang PNS atau ASN berinisial SPD (44) melakukan tindak sodomi terhadap lima orang remaja. SPD yang berasal dari Purwakarta melakukan tindakan bejat itu di Cikampek, Karawang. Pelaku mencari mangsa melalui Facebook serta taman bermain di wilayah Cikampek yang terdapat ana anak.

Lalu ia mengajak para korban bermain di wahana Timezone. Kepada polisi, SPD telah melancarkan aksi cabulnya sejak 2017 lalu. Korbannya DV (16), IG (16), SF (16), BS (13), dan AN (17). "Tersangka kemudian mengajak korban ke Mal Cikampek untuk bermain Timezone dan makan," kata Wakapolres Karawang Kompol Faisal Pasaribu dalam press release di Mapolres Karawang, Kamis (16/7/2020).

Dua orang korbannya DV dan IG dicabuli di toilet umum Pasar Cikampek. Setelah mencabuli, SPD memberi korban uang Rp 30.000 hingga Rp 50.000. Salah satu orangtua yang curiga dengan sakit yang dikeluhkan korban menginterogasi anaknya.

Orangtua tersebut kemudian melapor ke polisi. Untuk mempertanggungjwabkan korbannya, SPD terancam Pasal 82 ayat (1) UU Nomor 17 tahun 2016 tentang Penetapan Perppu Nomor 1 tahun 2017 tentang Perubhan Kedua Atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang Undang dengan ancaman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara serta denda paling banyak Rp 5 miliar. Seorang buruh berinisial ES (47) menyodomi dua anak laki laki.

Buruh asal Subang itu melakukan aksi bejatnya sejak Desember 2019. Ia memberi korban uang Rp 30.000 hingga Rp 50.000 agar korban mau melayaninya. Kapolres Subang AKBP Teddy Fanani mengungkap dua korban adalah MZ (13) dan SF (12).

Keduanya diketahui kerap bermain ke rumah ES. Kesempatan itu kemudian dimanfaatkan pria yang bekerja sebagai buruh itu. "MZ sebanyak 8 kali dan SF tiga kali (dicabuli)," ujar Teddy melalui keterangan tertulis, Rabu (15/7/2020). Selain bujuk rayu, ES juga meminta para korbanya tak memberitahukan perbuatan bejat yang ia lakukan sejak Desember 2019 hingga Juni 2020, di antaranya pada 2 Juni tahun 2020 sekitar pukul 02.00 WIB.

"Karena diberi uang, korban mau mengikuti kemauan tersangka," kata Teddy. Orang tua korban yang mengetahui pencabulan terhadap dua pelajar itu kemudian melapor ke polisi. Kini ES dijerat pasal perlindungan anak dengan ancaman hukuman bui paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar.

Selain membekuk ES, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti. Seperti kasur, seprai, tutup botol air mineral, bantal, dan pakaian korban. Untuk mencegah kejadian serupa terulang, Teddy mengajak para orang tua lebih waspada menjaga dalam menjaga anaknya.

Sebab, menurutnya kasus keserasan seksual kerap terjadi ketika lingkungan lengah. "Mari kita jaga anak anak kita, baik pada saat bermain, agar tahu perkembangan mereka dan anak punya kesempatan menyampaikan hal janggal yang terjadi pada dirinya," ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *