Kenapa Banyak Implementasi ERP Gagal? Ini Penyebab
Implementasi ERP sering dijual sebagai solusi besar: data terintegrasi, proses rapi, laporan real-time, kontrol biaya lebih kuat. Di atas kertas, semuanya terlihat ideal. Namun di dunia nyata, cerita yang sering terdengar justru sebaliknya: proyek molor, biaya membengkak, tim frustasi, laporan tidak sesuai harapan, bahkan sistem akhirnya ditinggalkan dan kembali ke spreadsheet.
Yang menarik, kegagalan implementasi software ERP jarang terjadi karena satu hal. Biasanya ia lahir dari kombinasi keputusan kecil yang “terlihat sepele” di awal, tetapi menjadi masalah besar ketika sistem mulai dipakai harian. ERP itu bukan sekadar instalasi software; ia adalah perubahan cara kerja. Jadi wajar kalau penyebab gagalnya pun banyak berkaitan dengan manusia, proses, dan ekspektasi bukan hanya teknis.
Artikel ini membahas penyebab umum kenapa implementasi ERP sering gagal, lengkap dengan konteksnya, supaya kamu bisa mengantisipasi sejak awal.
1) Mengira ERP adalah proyek IT, padahal ini proyek bisnis
Ini mungkin akar masalah paling klasik. Banyak perusahaan menyerahkan proyek ERP sepenuhnya ke tim IT atau vendor, sementara divisi bisnis hanya “menunggu jadi”.
Padahal, ERP menyentuh proses inti: penjualan, pembelian, gudang, produksi, finance, hingga approval. Jika pemilik proses (process owner) tidak terlibat sejak awal, ERP akan dibangun berdasarkan asumsi, bukan realitas. Hasilnya:
- Sistem tidak nyambung dengan cara kerja lapangan
- Banyak fitur yang ada tapi tidak dipakai
- User merasa ERP “menyusahkan” karena tidak mengikuti kebutuhan kerja
Proyek ERP seharusnya dipimpin bisnis dengan dukungan IT, bukan sebaliknya. Sponsor dari level manajemen juga penting, karena keputusan lintas divisi butuh otoritas.
2) Tujuan proyek tidak jelas: “pokoknya pakai ERP dulu”
ERP bukan tujuan. ERP adalah alat. Kalau perusahaan masuk ke proyek ERP tanpa tujuan yang konkret, proyek akan kehilangan arah dan mudah melebar.
Contoh tujuan yang terlalu kabur:
- “Biar lebih rapi”
- “Biar terintegrasi”
- “Biar laporan cepat”
Tujuan yang lebih jelas biasanya berbentuk target yang bisa diukur, misalnya:
- Akurasi stok meningkat (selisih stok turun signifikan)
- Tutup buku lebih cepat (misalnya dari 20 hari jadi 7 hari)
- Approval pembelian lebih terkontrol (ada limit dan jejak audit)
- Penjualan multi-channel bisa konsisten (harga dan stok sinkron)
Ketika tujuan jelas, scope lebih mudah dijaga. Tim juga tahu prioritas: modul mana dulu, proses mana yang harus dibereskan, dan apa definisi “sukses”.
3) Scope terlalu besar sejak awal (big bang tanpa kesiapan)
Banyak perusahaan ingin langsung “sekalian semuanya” dalam satu go-live: finance, inventory, procurement, sales, production, HR, sampai BI dashboard. Secara teori bisa, tapi risikonya sangat tinggi, apalagi jika tim belum pernah hidup dengan sistem terintegrasi.
Dampaknya:
- Analisis proses jadi terlalu luas
- Training jadi tidak fokus
- Testing tidak mendalam
- Go-live penuh kejutan karena terlalu banyak skenario yang belum diuji
Pendekatan yang lebih aman sering kali bertahap, misalnya:
Tahap 1: finance + purchasing + inventory (fondasi kontrol)
Tahap 2: sales + warehouse optimization
Tahap 3: production, project, atau modul tambahan sesuai kebutuhan
Tahap 4: dashboard, automasi, integrasi lanjutan
Bukan berarti harus selalu bertahap, tapi “sekalian semua” tanpa kesiapan internal biasanya berujung pada kelelahan proyek.
4) Memaksakan ERP mengikuti kebiasaan lama (atau sebaliknya, memaksakan proses tanpa adaptasi)
Ada dua ekstrem yang sama-sama berbahaya.
Ekstrem pertama: perusahaan memaksa ERP meniru proses lama apa adanya. Biasanya ditandai dengan permintaan kustomisasi berlebihan, karena “di Excel dulu kami begini”. Akibatnya:
- Sistem jadi rumit dan sulit dipelihara
- Upgrade jadi mahal dan berisiko
- Ketergantungan pada vendor makin tinggi
- Banyak bug muncul karena alur dibuat terlalu unik
Ekstrem kedua: perusahaan memaksa proses bisnis mengikuti ERP tanpa mempertimbangkan kondisi lapangan. Hasilnya:
- User merasa proses tidak masuk akal
- Workaround bermunculan
- Data tetap tidak rapi karena user mencari jalan pintas
Solusi sehat ada di tengah: adaptasi proses dengan standar best practice, tetapi tetap realistis dengan cara kerja operasional. Kustomisasi boleh, tapi harus selektif dan berbasis kebutuhan yang benar-benar kritikal.
5) Data migration dianggap pekerjaan admin, padahal ini pekerjaan strategis
ERP bisa secanggih apa pun, tetapi kalau datanya kacau, outputnya juga kacau. Salah satu penyebab umum kegagalan adalah migrasi data yang asal-asalan.
Masalah data yang sering muncul:
- SKU duplikat atau tidak konsisten (nama berbeda untuk barang yang sama)
- Satuan tidak seragam (pcs vs box tanpa konversi jelas)
- Data customer/supplier tidak lengkap atau ganda
- Saldo awal piutang/hutang tidak akurat
- Stok awal tidak sesuai fisik
Ketika go-live dengan data yang tidak bersih, user langsung kehilangan kepercayaan. Begitu trust runtuh, user akan kembali ke cara lama: spreadsheet, catatan pribadi, atau pencatatan “di luar sistem”.
Data migration bukan sekadar pindah data, tapi kesempatan untuk merapikan fondasi bisnis.
6) Kurang change management: user tidak diajak berubah, hanya disuruh pakai
Implementasi ERP bukan cuma soal “training cara klik”. Ini soal perubahan kebiasaan kerja: bagaimana membuat dokumen, bagaimana approval, bagaimana barang keluar masuk, bagaimana transaksi ditutup.
Tanpa change management yang benar, yang terjadi:
- Penolakan diam-diam (resistance)
- User mengisi seadanya
- Banyak transaksi tidak dicatat real-time
- Sistem dianggap “beban”, bukan alat bantu
Change management mencakup:
Komunikasi alasan perubahan (kenapa ERP dipakai)
Peran dan tanggung jawab yang jelas
Training berbasis skenario kerja nyata, bukan teori modul
Dukungan di minggu-minggu awal go-live (hypercare)
Metrik adopsi: apakah user benar-benar memakai sistem sesuai proses?
Sering kali, proyek ERP gagal bukan karena sistem tidak bisa, tetapi karena orang tidak siap.
7) Testing lemah: UAT hanya formalitas
UAT (User Acceptance Test) seharusnya adalah momen untuk menguji proses end-to-end menggunakan data dan skenario yang mendekati kenyataan.
Namun di banyak proyek, UAT jadi formalitas:
- Testing hanya dilakukan oleh beberapa orang
- Tidak menggunakan kasus nyata (misalnya retur, partial delivery, diskon khusus, barang rusak)
- Tidak menguji integrasi lintas modul
- Tidak ada daftar defect dan penanganannya yang rapi
Akibatnya, masalah baru terlihat saat go-live, ketika volume transaksi tinggi dan tekanan operasional besar. Di fase itu, perbaikan jauh lebih mahal dan lebih membuat stres.
UAT yang baik biasanya menguji jalur utama:
Order to cash (dari order sampai pembayaran)
Procure to pay (dari PO sampai bayar vendor)
Inventory movement (transfer, adjustment, return)
Closing (posting, rekonsiliasi, laporan)
8) Tidak ada owner proses yang bertanggung jawab harian
ERP membutuhkan disiplin proses. Siapa yang memastikan transaksi diposting tepat waktu? Siapa yang memastikan master data tidak sembarangan dibuat? Siapa yang menjaga struktur approval tidak berubah seenaknya?
Kalau tidak ada peran yang jelas, sistem akan cepat “kendor”. Contohnya:
- Semua orang bisa bikin item baru, akhirnya SKU meledak
- Semua orang bisa edit transaksi, audit trail jadi tidak dipercaya
- Tidak ada standar kapan invoice harus diposting
- Tidak ada kontrol terhadap jurnal manual yang bisa mengacaukan laporan
Karena itu banyak perusahaan membentuk tim kecil setelah implementasi:
ERP admin / key user per divisi
Data steward untuk master data
Process owner yang menjaga SOP
Tim support internal untuk first response sebelum eskalasi vendor
Tanpa struktur ini, ERP bisa hidup sebentar lalu perlahan ditinggalkan.
9) Salah memilih vendor/partner atau salah model kerja sama
Memilih vendor ERP bukan hanya memilih software, tetapi memilih partner perubahan.
Masalah yang sering terjadi:
- Vendor menjanjikan bisa semua, tapi saat implementasi banyak batasan
- Tim implementasi junior dan sering berganti personel
- Dokumentasi minim, knowledge transfer lemah
- Support pasca go-live lambat atau tidak jelas
Selain vendor, model kerja sama juga penting. Banyak perusahaan tidak memiliki SLA yang tegas untuk respon, bug fix, dan support. Ketika terjadi kendala di operasional, tim bingung harus menghubungi siapa, dan kapan masalah selesai.
Vendor yang baik biasanya transparan dari awal: apa yang bisa out-of-the-box, apa yang perlu konfigurasi, apa yang butuh kustomisasi, dan risikonya.
10) Kurang perhatian pada integrasi dengan sistem lain
Dalam banyak bisnis modern, ERP tidak berdiri sendiri. Ia perlu terhubung dengan:
POS
E-commerce/marketplace
Sistem logistik
Payment gateway
HRIS
WMS, dan sebagainya
Kalau integrasi tidak dipikirkan sejak awal, yang terjadi:
- Data tetap terpecah
- Banyak input manual tetap ada
- Laporan tetap tidak sinkron
- User frustrasi karena harus kerja dua kali
Integrasi yang sehat perlu dirancang dari awal: data apa yang masuk, data apa yang keluar, siapa owner datanya, kapan sinkronisasinya, dan bagaimana handling kalau terjadi error.
11) Menyepelekan keamanan akses dan kontrol perubahan
Di awal implementasi, perusahaan sering longgarkan akses agar “lebih cepat jalan”. Sayangnya, ini jadi bumerang.
Contoh masalah:
- Semua orang bisa approve pembelian
- Semua orang bisa edit transaksi yang sudah diposting
- Tidak ada pembatasan perubahan master data
- Tidak ada audit trail yang dipantau
Dampaknya bukan hanya risiko fraud, tetapi juga kualitas data turun. Begitu data tidak bisa dipercaya, laporan jadi tidak dipakai, dan ERP kehilangan fungsi utamanya.
12) Tidak ada rencana pasca go-live: mengira proyek selesai setelah sistem aktif
Go-live bukan garis finish. Justru setelah go-live, ERP masuk fase paling menentukan: apakah dipakai konsisten atau tidak.
Banyak perusahaan go-live lalu “membubarkan tim proyek”. Akibatnya:
- Bug kecil dibiarkan sampai jadi besar
- User tidak punya tempat bertanya cepat
- SOP tidak diperbarui, proses jadi liar
- Tidak ada evaluasi kinerja sistem
ERP butuh fase hypercare (misalnya 4–8 minggu) dengan respon cepat, lalu dilanjutkan roadmap optimasi: perbaikan proses, penyempurnaan laporan, automasi approval, dan seterusnya.
Cara mengurangi risiko gagal: prinsip yang paling sering berhasil
Kalau disederhanakan, ada beberapa prinsip yang paling sering membantu perusahaan berhasil:
- Tetapkan tujuan yang terukur dan sepakati definisi sukses
- Mulai dari fondasi: master data, finance, inventory, dan procurement yang rapi
- Jaga scope dan hindari kustomisasi berlebihan
- Libatkan process owner dan key user sejak awal
- UAT pakai skenario nyata, bukan sekadar checklist
- Siapkan struktur operasional pasca go-live (support internal, governance master data)
- Pastikan kontrak, SLA, dan jalur eskalasi jelas
ERP bukan sistem yang “dipasang”, melainkan sistem yang “dihidupkan” melalui kebiasaan kerja baru.
Kesimpulan
Banyak implementasi ERP gagal karena ekspektasi tidak realistis dan persiapan yang kurang matang. Saat proyek diperlakukan sebagai pemasangan software, perusahaan akan kaget menghadapi perubahan proses, disiplin data, dan kebutuhan koordinasi lintas divisi. Sebaliknya, ketika ERP diperlakukan sebagai transformasi bisnis dengan tujuan jelas, proses rapi, data bersih, dan change management yang kuat ERP justru menjadi fondasi yang membuat perusahaan bisa tumbuh tanpa chaos.