var id = "842a7fe6af934b848268c775b4bddb0db3d1c0a4"; ?php body_class(); ?>>
(123)456 7890 [email protected]

Ini Kata MUI Sumut Pemakaman Sesuai Protokol Covid-19 Viral Jenazah Masiih Pakai Daster & Dikafani

Ini Kata MUI Sumut Pemakaman Sesuai Protokol Covid-19 Viral Jenazah Masiih Pakai Daster & Dikafani

Berikut ini penjelasanMajelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut viralnya foto jenazah yang masih mengenakan baju daster dan dikafani. Sejauh ini, belum diketahui secara pasti apakah jenazah itu terpapar Covid 19 atau tidak. Namun, proses pemakaman menggunakan protokol kesehatan Covid 19.

Sekum MUI Sumut Dr Ardiansyah mengatakan, jenazah yang meninggal terpapar Covid 19 diselenggarakan dengan cara khusus sesuai Fatwa MUI No. 18/2020. Lanjut Dr Ardiansyah, hal ini menjadi keprihatinan tentunya, apalagi dalam kondisi pandemik saat ini. "Oleh karena itu, mari kita terus berdoa dan terus berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Dia mengangkat wabah ini dari bumi ini," katanya.

Adapun fatwa MUI tentang pengaturan jenazah yang terpapar Covid 19 yakni: Umat Islam yang wafat karena wabah Covid 19 dalam pandangan syara’ termasuk kategori syahid akhirat dan hak hak jenazahnya wajib dipenuhi, yaitu dimandikan, dikafani, disalati, dan dikuburkan, yang pelaksanaannya wajib menjaga keselamatan petugas dengan mematuhi ketentuan ketentuan protokol medis. Pedoman memandikan jenazah yang terpapar Covid 19 dilakukan sebagai berikut:

Adapun pedoman mengafani jenazah yang terpapar Covid 19 dilakukan sebagai berikut: Penguburan beberapa jenazah dalam satu liang kubur dibolehkan karena darurat (al dlarurah al syar’iyyah) sebagaimana diatur dalam ketentuan Fatwa MUI Nomor 34 Tahun 2004 tentang Pengurusan Jenazah (Tajhiz al Jana’iz) Dalam Keadaan Darurat. Diberitakan sebelumnya, viral di medsos jenazah wanita yang masih menggunakan daster yang dibalut dengan kain kafan di liang kubur.

Foto foto tersebut beredar luas di grup grup WhatsApp (WA). Ada bagian jenazah seorang wanita itu terbuka dan terlihat masih mengenakan baju daster. Terkait beredarnya foto tersebut, Humas RS Sembiring, Sentosa Barus atau yang karib disapa Barus mengatakan bahwa dirinya tidak begitu mengetahui.

Menurut Barus, pihak rumah sakit sudah memroses jenazah tersebut. Ia mengklaim kondisi jenazah sudah rapi (proses Fardu kifayah). "Kalau riwayat sakit pasien saya kurang tahu. Karena dia (almarhum) rujukan. Jadi cuma satu hari di sini," bebernya.

Masih dikatakan Barus, terkait hasil swab untuk pasien tersebut belum keluar. "Sebelum meninggal dilakukan pemeriksaan. Namun, jenazah kita lakukan sesuai dengan prosedur dan syariat Islam, ditutup rapat dan dipakaikan peti," ucapnya. Saat disinggung, jenazah yang dikabarkan di lokasi pemakaman umum di kawasan Jalan STM, Barus menuturkan awalnya keluarga almarhumah menolak untuk dimakamkan di kuburan Covid 19.

"Setelah kita beri edukasi dengan penjelasan, akhirnya pihak keluarga mau. Namun, mereka meminta jenazah dimakamkan di kampung halaman pasien," jelasnya. Untuk menghindari penolakan dari warga, kata Barus, pihaknya juga memfasilitasi dengan tenaga medis untuk pemakaman. "Kita juga menjaga, bukan apa, karena di pemakaman umum, takutnya warga keberatan. Makanya kami memfasilitasi tenaga medis dilengkapi APD untuk melakukan proses pemakaman," pungkasnya.

Sementara itu, Lurah Suka Maju, Harry Agus Perdana yang dikonfirmasi wartawan membenarkan adanya peristiwa tersebut. Dijelaskannya, bahwa awal mula pasien ini masuk ke RS Sembiring pada Kamis (23/7/2020) lalu karena historis penyakit jantung. Namun, pada Jumat (24/7/2020) subuh, pasien kemudian dinyatakan meninggal dunia.

"Tapi (memang) itu belum dipastikan covid 19 atau tidak. Informasi yang kami terima dari rumah sakit, warga kita yang meninggal hasil rapid nya reaktif," katanya, Minggu (26/7/2020). Heri Agus menuturkan, karena hasil rapid test reaktif, pihak rumah sakit lalu mengarahkan keluarga agar pemakamannya dilakukan sesuai protokol pemulasaraan jenazah Covid 19. Meskipun awalnya ada penolakan, namun belakangan keluarga akhirnya menerima dengan kesepakatan penguburan dilakukan di pemakaman keluarga dan tetap dilakukan sesuai protokol Covid 19.

"Waktu proses pemakaman awal tidak ada masalah. Tapi informasi yang saya diterima dari keluarga bahwa petinya tidak muat, lalu oleh pihak keluarga petinya dibongkar, sehingga nampak lah jenazah yang masih berdaster itu," jelasnya. Setelah melihat kondisi jenazah, sambung Harry, pihak keluarga beranggapan jika jenazah almarhum belum dimandikan, dan karenanya pemakamannya dianggap tidak sesuai fardhu kifayah Agama Islam. Jadi, di lapangan, lanjut Harry, setelah ditanyakannya kepada petugas RS Sembiring, petugas itu mengaku jika jenazah sudah dimandikan, dan dia sendirilah yang memandikannya.

"Sehingga keinginan keluarga untuk memandikan jenazah pun saya tolak, dan pemakaman pun tetap dilanjutkan sesuai protokol Covid 19. Karena kalau dikeluarkan dari peti, kan tidak (sesuai) protokol lagi," ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *